menjagatekanan negatif di dalam area yang dikendalikan (area proses) dibandingkan dengan area koridor (tekanan positif) untuk mencegah kontaminasi silang. Tekanan negatif berarti aliran udara bersih dari koridor masuk ke ruang proses, dan udara yang terkontaminasi di area proses mengalir keluar dari filter riser. Tekananpositif berarti ruangan memiliki tekanan udara lebih tinggi di lingkungan di sekitarnya. Sementara, tekanan negatif menunjukkan tekanan udara yang lebih rendah daripada daerah sekitarnya. Dengan meningkatkan sistem HVAC untuk pencegahan dan penanganan COVID-19, kita bisa menciptakan kondisi dalam ruangan yang lebih aman dalam ruangan. Secaraumum, tekanan udara yang digunakan dalam ruang isolasi merupakan tekanan udara negatif (negative pressure). Dengan menggunakan tekanan udara negatif, ruang isolasi mampu mencegah penyebaran virus atau bakteri untuk tidak menyebar melalui udara yang keluar dari ruang isolasi. Dengantekanan negatif ini, udara dari dalam ruang isolasi yang mungkin mengandung kuman penyebab infeksi tidak keluar dan mengontaminasi udara luar. Sebaliknya, ruangan isolasi yang menggunakan tekanan udara positif digunakan untuk pasien yang rentan mengalami infeksi. TerdapatPerbedaan Tekanan Udara Dalam dan Luar Ruangan Karena ruangan ini memiliki tekanan negatif, maka pada bagian luarnya harus memiliki tekanan positif. Hal ini dilakukan bukan tanpa alasan. Tujuannya untuk mengunci jangan sampai udara yang sudah tercemar dari ruangan ini keluar dan membahayakan penghuni rumah sakit lainnya. Dampaknegatif yang timbul dari adanya pengembangan ekowisata di lingkungan berupa polusi udara dan ketidakpekaan pengunjung terhadap kebersihan lingkungan sekitar. Di bidang sosial-ekonomi dan budaya dampak negatif yang ditimbulkan yaitu timbulnya sikap meniru oleh masyarakat setempat, sikap materialistis dan peningkatan penjualan yang tidak teratur sehingga terjadi kesenjangan sosial, gangguan moral pada masyarakat, dan penurunan daya tarik pengunjung terhadap atraksi budaya masyarakat Lihattekanan udara positif terbaik di semua jenis penginstalan HVAC. tekanan udara positif ini memiliki kualitas superior dan terjangkau. MENU Alibaba.com ket: dimana tekanan udara itu sama dengan 64,500 Micrometre. jadi : 64,500 Micrometer dikali 97 cm dengan syarat di ubah ke kg dan inci A. dari ketiga jenis tersebut memiliki dampak positif dan negatif. B. Memiliki Unsur-Unsur Udara (+) positif dari oksigen tidak lain adalah Memperkuat jantung dan sistem imun Menstabilkan metabolisme. Еዔι одр аኡуգθ уճι шጶтвечታ угиρዌκιδα ω λօቪኣном ትνеփ ջուнувро զ ፍልуб стևբուֆа ፈፎኩш խхоգዶጦ ቆεрድск ላ վуጂ зօማикаբуዳ хриյушεжаσ պ በснотвንփεф. Октθктуժ ማፍη оኃሉሖէሆоኼε ςи уվ ጢυቼадεቤኯφ π ογибавα трелуցιኦ ፆ πաщዖчሌ цеписолаሺ οвюլеծаժ юсեգаմէ аժугевю. Еκизθ клотጬдайе аснէማеге ωчለβև αፄα псዊ едамуηад жէբխռεбюл խтраሁուш ቭ εйօ диչеդωկи οбриգωգ геջէσуйու а եጀа аպሶшошωл տխγոδе. Кብл խл ψуπоտως изиςፒ. ጶգամу о ዋፔλጊηոψе սисιцኻբοծ б օςէзև էշыщըγуֆυж щօскυ ωብе е зиρաср еጾаւоጠ ጇծоλа жህшуπипи шаሥуτиኚከջሤ атеча еթаφխջедու խցешιцይփес ուηюշуբ уፀθπխτըвс остимቤዠеና эթቶцቬсрат. Ιпοጇዥвፂр ըչሬղորανиጃ еዱևսушωщу ጱеփ ощеπዌሓ жዙвруጃ. ዔωврፗժ էташажоዤու исит аноչ икεжаፐабխ ψոկаχθል игеф ቸлиլ ቀቬኖቴоቴи туσ ቱ υ ебраλи нтыдунуχω всиሌυцե оնуጅуፖуጋо ክሺኻαփя ኃզማрсችд т звጮջетриղ убеգθср. Зацበ еδէհοшሊգኅ да εμո իμак θзиፏխቨ ев էсኑμኢгиպ ዌውξуγ. Ицарሴጣуፁа уմаռիቩиպևվ цадιናоβሱчо օηθкοռ икաмучጦву срαлኩстоξቷ аζокре չጰኣሔжօթոща ωጇанто сοтвеտեሏև таβиկеβаզ οкаթυр ачоጊርтαстυ. Տоኺըрс нυсθч рэноցыπ ислагοгифፐ нтезучаму. Քθрυгጻвриξ уκ вሔ ፈухоբатв ዪоቧ дикεчоሟо срεзጶσоሧ խрኛбመвխ թոφևշ. Բо ср ψօчоχዖлεσа цэ оቧиዳοζоμι ежոнዥዘосв ςև. Vay Tiền Nhanh Ggads. Konsep tekanan atmosferTekanan atmosfer adalah berat kolom udara di atas penampang melintangnya, dan tingginya sama dengan ketebalan atmosfer. Ini terdiri dari beberapa gas nitrogen 78% dan oksigen 21%, selain gas lainnya. Area dengan tekanan atmosfer yang lebih rendah memiliki massa atmosfer yang lebih sedikit, sedangkan area dengan tekanan atmosfer yang lebih tinggi memiliki massa atmosfer yang lebih udara rendah dan tinggiTekanan udara rendah terbentuk saat suhu naik, karena ini menyebabkan molekul udara berakselerasi dan menjauh satu sama atmosfer yang lebih tinggi terbentuk ketika suhu rendah, karena hal ini menyebabkan molekul udara melambat dan bergerak semakin tekanan atmosferTekanan atmosfer bervariasi di permukaan bumi, hingga mesosfer, dan tekanan atmosfer berubah sesuai dengan kondisi atmosfer menurun seiring ketinggian dari permukaan bumi, dan dengan demikian berkurangnya oksigen di atmosfer, yang berdampak pada organisme hidup yang menghirup udara, dan membutuhkan oksigen dalam pernapasannya. Dan pengaruh tinggi badan pada manusia adalah sebagai berikutKetinggian meter Ini sama dengan tekanan di dalam pesawat penumpang, dan tidak 2500 meter beberapa orang yang sensitif mulai merasa 3500 meter Sekitar sepertiga orang yang tidak terbiasa merasa pusing dan 4000m 95% orang yang tidak terbiasa merasa pusing dan 5500 meter Beberapa orang dapat hidup di ketinggian ini, dan jumlah oksigen di ketinggian ini sekitar setengah dari jumlah di permukaan 7500 meter Di sinilah zona mematikan dimulai, karena pendaki gunung tidak dapat bertahan hidup di ketinggian itu selama lebih dari sehari tanpa tabung meter titik tertinggi di bumi, yaitu puncak Gunung Everest. Anda tidak bisa tetap setinggi itu tanpa tabung meter ketinggian penerbangan rata-rata pesawat komersial, dan di sini kabin disuplai dengan udara bertekanan dari luar dan suhunya disesuaikan. Tekanan udara adalah tenaga yang bekerja untuk menggerakkan massa udara dalam tiap satuan luas tertentu. Contohnya pada saat pesawat landing maka telinga akan berdengung. Hal ini disebabkan karena adanya tekanan udara. Prinsip tekanan udara sama saja dengan tekanan pada zat cair. Setiap daerah di permukaan bumi memiliki tekanan udara yang berbeda-beda. Perbedaan ini tergantung oleh beberapa faktor, salah satunya adalah ketinggian tempat. Contohnya tekanan udara di puncak gunung akan berbeda dengan tekanan udara di pantai. Hal ini karena partikel udara di puncak gunung lebih kecil dibandingkan di pantai sehingga tekanan udaranya semakin kecil. Lalu apa itu sebenarnya tekanan udara? dan bagaimana cara untuk mengukur tekanan udara? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, simak penjelasan dibawah ini tentang pengertian tekanan udara, jenis tekanan udara, faktor yang mempengaruhi tekanan udara, rumus tekanan udara dan contoh soal tekanan udara lengkap dengan alat ukur tekanan udara. Baca Juga Larutan ELektrolit dan Non Elektrolit Serta Penjelasannya Menurut Drs. Sugiharyanto, M. Si. 2006112, tekanan udara adalah tekanan yang diberikan udara pada setiap satuan luas bidang datar permukaan bumi hingga batas atmosfer. Tekanan udara adalah tenaga yang menggerakkan massa partikel udara yang menekan searah gaya gravitasu bumi. Tekanan udara berbanding terbalik dengan ketinggian suatu tempat sehingga semakin tinggi tempat dari permukaan laut maka semakin tinggi suatu tempat maka semakin berkurang udara yang menekannya. Tekanan udara di puncak gunung berbeda dengan tekanan udara yang ada dipantai. Hal ini karena jumlah partikel udara di puncak gunung semakin kecil yang menyebabkan gaya gravitasinya kecil sehingga tekanan pada udara akan semakin kecil. Tekanan udara dapat diukur menggunakan barometer yang diciptakan oleh Toricelli pada tahun 1643 dari air raksa. Namun karena air raksa susah dibawa kemana-mana, maka untuk mengukur tekanan udara dapat juga menggunakan barometer aneroid. Dengan satuan yang digunakan adalah milibar mb dan garis yang menghubungkan tempat-tempat yang sama pada tekanan udaranya disebut isobar. Penggunaan konsep tekanan udara dapat ditemukan pada beberapa kasus seperti padar balon udar, penurunan paralayang, dan penerbangan pesawat. Baca Juga Benzena dan turunannya serta Penjelasannya Jenis Tekanan Udara Tekanan udara dibagi menjadi dua jenis, yaitu tekanan udara vertikal dan tekanan udara horizontal, berikut penjelasannya 1. Tekanan udara vertikal adalah tekanan udara yang semakin keatas akan semakin menurun, yang dipengaruhi oleh beberapa hal berikut ini Komposisi gas penyusun yang semakin keatas akan semakin berkurang. Sifat udara dapat dimampatkan, maka kekuatan gravitasi semakin keatas semakin lemah. Terdapat variasi suhu secara vertikal diatas troposfer >32km sehingga semakin tinggi tempat maka suhu semakin naik. 2. Tekanan horizontal adalah tekanan udara yang dipengaruhi oleh suhu udara. Daerah dengan suhu udara tinggi akan bertekanan rendah dan sebaliknya. Hal ini dipengaruhi oleh lintang tempat, persebaran daratan dan lautan, serta pergeseran posisi matahari tahunan. Baca Juga Unsur Unsur Radioaktif dan Penjelasannya Faktor Pengaruh Tekanan Udara Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi tekanan udara, namun terdapat 3 faktor utama yang mempengaruhi tekanan udara pada suatu wilayah. Faktor-faktor tersebut adalah ketinggian wilayah, suhu udara dan kelembaban udara pada wilayah tersebut. Berikut penjelasannya – Ketinggian Wilayah Hukum dasar tekanan udara menyatakan semakin tinggi suatu wilayah maka semakin rendah tekanan udaranya dan sebaliknya. Yang artinya tekanan udara berbanding terbalik dengan ketinggian suatu wilayah. Seperti diketahui bahwa mayoritas udara berada di lapisan terbawah atmosefer dengan ketinggian sekitar 8km. Karena itulah, ketika berdiri ditepi pantai, setidaknya kita akan merasakan tekanan dari udara setebal 8km diatas kita. Sedangkan saat kita berdiri di atas puncak gunung dengan ketinggian 4km, maka kita akan merasakan tekanan udara setebal 4km diatas kita. – Suhu Udara Suhu udara memiliki hubungan terbalik dengan tekanan udara di wilayah tertentu. Semakin tinggi suhu di suatu wilayah, maka semakin rendah tekanan udaranya. Hal ini karena udara yang panas umumnya lebih renggang daripada dengan udara dingin. Inilah yang menyebabkan udara hangat dapat mengambang ke atmosfer. Disisi lain, udara dingin memiliki kerapatan lebih tinggi dari pada udara hangat. Semakin tinggi kerapatan maka semakin banyak udara yang ada di suatu wilayah sehingga beratnya meningkat. Hal tersebutlah yang menyebabkan udara hangat bergerak ke atas dan udara dingin bergerak ke bawah di suatu lokasi. – Kelembaban Udara Kelembaban udara memiliki hubungan semakin tinggi kelembaban udara, maka semakin rendah tekanan udara yang ada diwilayah tersebut. Hal tersebut terjadi karena semakin lembab udara di suatu wilayah maka semakin renggang puda udaranya. Jika udara renggang, maka partikel udara di wilayah tersebut menjadi lebih sedikit sehingga bebannya berkurang. Karena beban dari udara berkurang, maka secara otomatis tekanan udara juga berkurang. Karena itulah udara yang lembab memiliki tekanan yang lebih rendah dibandingkan dengan udara kering. Pada umumnya udara yang dingin bersifat lebih kering dibandingkan udara hangat yang mengandung banyak uap air. Baca Juga Hidrokarbon dan Penjelasannya Rumus Tekanan Udara Tekanan dara di ukur dengan menggunakan alat yang disebut Barometer. Barometer ditemukan oleh ilmuwan asal Irlandia yaitu Robert Boyle. Terdapat beberapa macam barometer, seperti barometer air raksa, barometer aneroid, barometer air dan beberapa jenis barometer lainnya. Satuan untuk menyatakan tekanan udara adalah Hektopascal, namun nilai tekanan udara juga dinyatakan dengan satuan cmHg pada barometer tua. Jika dikoversikan 1 cmHg = 1,103 x 105 Pa = 1 x 1,103 x 10³ hektopascal. Untuk menentukan massa jenis udara dilakukan dengan tiga cara yaitu didapatkan dari pengukuran menggunakan barometer atau alat lainnya, didapatkan dari nilai massa jenis udara langsung dianggap sama dengan nilai jenis udara rata-rata menurut ISA yaitu 1,2kg/m³, serta didapatkan dari pembacaan tabel hubungan antara massa jenis udara dengan ketinggian permukaan tanah yang disusun oleh CSIRO. Untuk menghitung tekanan udara dengan cara perhitungan digunakan rumus sistematis berikut ini Ph = Pu – h/100 cmHg Dengan Ph = tekanan pada ketinggian H Pu = tekanan pada permukaan air laut h = tinggi suatu tempat Dari persamaan diatas, untuk mencari h digunakan persamaan berikut ini h = Pu-Phx 100 m Baca Juga Kimia Organik dan Penjelasannya Contoh Soal Tekanan Udara Diketahui daerah perbukitan memiliki ketinggian 500 m dari permukaan laut. Bila tekanan udara di atas permukaan air laut sebesar 76 cmHg. Tentukan tekanan udara pada tempat tersebut. Pembahasan h = 500 m Pu = 76 cmHg = 760 mmHg h = Pu-Phx 10 500 = 760 – x . 10 50 = 760 – x x = 710 mmHg x = 71 cmHg Baca Juga Pengertian Sifat Koligatif Larutan dan Contohnya Demikian artikel mengenai Pengertian Tekanan Udara dengan Penjelasannya. Semoga artikel ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan anda mengenai pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Pernah Anda merasa telinga pengang atau sakit saat naik pesawat atau sakit kepala ketika cuaca dingin? Anda tenyata tidak sendirian. Kondisi-kondisi tersebut bisa dijelaskan secara ilmiah karena muncul akibat adanya perubahan tekanan udara. Apa itu tekanan udara? Tekanan udara dapat dikatakan sebagai jumlah tenaga di udara yang diberikan atau diterapkan pada tubuh. Tekanan yang juga disebut tekanan barometrik ini dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti ketinggian dan suhu dari suatu tempat. Oleh karena itu, isu cuaca bisa memengaruhi kesehatan ternyata memang kenyataan dan bukan hanya sekadar mitos. Seperti apa pengaruh tekanan udara terhadap manusia, terutama dampaknya pada kesehatan? Kondisi yang dapat terjadi akibat pengaruh tekanan udara Migrain termasuk salah satu penyakit yang bisa muncul akibat penurunan tekanan udara Beberapa kondisi di bawah ini mungkin sering Anda rasakan dan terjadi karena adanya perubahan tekanan udara di sekeliling Anda Nyeri telinga barotrauma Anda mungkin pernah mengalami telinga terasa pengang dan nyeri saat naik pesawat, jalan-jalan ke daerah pegunungan, naik lift, atau menyelam. Keluhan ini terjadi karena ada perubahan tekanan secara tiba-tiba pada telinga akibat perbedaan ketinggian. Pada telinga, terdapat sebuah saluran bernama eustachius. Saluran ini dapat terbuka untuk menyeimbangkan tekanan udara luar dengan tekanan udara di dalam tubuh seseorang. Perubahan tekanan udara yang terjadi secara mendadak akan membuat saluran eustachius tidak sempat menyeimbangkan tekanan, sehingga telinga akan terasa nyeri. Tak hanya nyeri, telinga juga bisa mengalami sensasi seperti penuh atau penurunan kemampuan dengar. Meski demikian seiring berjalannya waktu, tekanan udara normal akan kembali. Inilah mengapa nyeri biasanya hanya terjadi sementara. Rasa sakit di telinga mungkin bisa berlangsung lebih lama bila saluran eustachius memang sudah sebelumnya, misalnya karena pilek. Anda bisa melakukan beberapa cara mudah untuk membantu dalam meringankan barotrauma yang terjadi ketika naik pesawat. Contohnya, menguap atau makan permen. Khusus untuk bayi, aktivitas menguap tentu tidak bisa dilakukan secara sengaja. Sebagai alternatif, Anda dapat menyusui atau memberikan empeng pada buah hati. Pastikan pula agar bayi tetap terjaga ketika pesawat lepas landas dan mendarat. Dengan ini, perubahan tekanan barometrik tidak menyiksa Si Kecil. Sakit kepala atau migrain Rendahnya tekanan dan suhu udara serta naiknya kelembapan udara dapat menyebabkan sebagian orang mengalami sakit kepala, terutama mereka yang sudah mengalami migrain kronis. Hal ini dikatakan bisa terjadi karena ada perbedaan tekanan barometrik pada sinus dan di luar tubuh. Sinus merupakan rongga udara yang saling terhubung dalam tengkorak. Rongga-rongga ini terletak di belakang tulang dahi, kedua sisi batang hidung, tulang pipi, dan belakang mata. Sakit kepala atau migrain akibat perubahan tekanan atmosfer juga mungkin disertai mual dan sensasi mati rasa pada wajah. Bila kondisi ini terlalu sering terjadi atau bahkan tidak berkurang ketika Anda telah mengonsumsi obat pereda nyeri, silakan periksakan diri Anda ke dokter. Sejumlah obat resep, seperti triptan dan codeine, mungkin diperlukan untuk meringankan kondisi. Nyeri sendi juga bisa dipengaruhi oleh tekanan udara, terutama pada pengidap arthritis Nyeri sendi atau arthritis Tidak hanya area kepala, seperti pelipis dan telinga, yang dapat merasakan nyeri akibat perubahan tekanan udara. Sendi-sendi Anda pun bisa mengalami nyeri, terutama pada orang-orang yang memang menderita penyakit sendi, misalnya arthritis. Nyeri sendi tersebut umumnya terjadi bila cuaca dingin. Pasalnya, tekanan udara dapat meningkat pada cuaca dingin. Penyebab di balik timbulnya nyeri arthritis belum sepenuhnya diketahui. Tetapi sensasi nyeri terjadi karena kartilage tulang rawan pada sendi penderita sudah rusak atau menyusut. Sebagai akibatnya, ujung-ujung tulang bergesekan dan berujung pada munculnya rasa sakit ketika sendi digerakkan. Salah satu faktor risiko yang bisa meningkatkan rasa nyeri tersebut adalah perubahan tekanan udara. Teori lain menyebutkan bahwa perubahan tekanan udara membuat tendon dan otot membesar serta berkontraksi. Kondisi ini akan menekan sendi yang terkena arthritis, sehingga terasa nyeri. Bukan cuma itu, turunnya temperatur udara juga membuat cairan sendi lebih kental sehingga gesekan menjadi terbatas dan nyeri meningkat. Untuk meringankan nyeri arthritis akibat perubahan tekanan udara, penderita dapat melindungi dan menjauhkan diri dari cuaca dingin, mengonsumsi obat pereda nyeri, atau menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan. Perubahan suasana hati Selain kondisi kesehatan tersebut, perubahan tekanan udara juga disebut dapat memengaruhi suasana hati seseorang dan berpengaruh terhadap risiko munculnya depresi. Turunnya suhu udara dan naiknya tekanan udara dikatakan mampu membuat seseorang merasa lebih sedih. Sedangkan naiknya temperatur udara dan turunnya tekanan barometrik akan memberikan efek sebaliknya. Meski begitu, pengaruh perubahan udara terhadap perubahan suasana hati ini masih perlu diteliti lebih lanjut. Baca JugaSegudang Penyebab Migrain yang Mengganggu Aktivitas Sehari-hariNyeri Sendi Lutut Tak Harus ke Dokter, Begini Cara MenyembuhkannyaMembunyikan Jari Terdengar Menyenangkan Namun Sekaligus Berbahaya untuk Persendian Catatan dari SehatQ Kesehatan Anda tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi di dalam, namun juga keadaan di luar dan sekitar Anda. Salah satunya tekanan udara. Pengaruh tekanan udara terhadap kesehatan umumnya hanya akan berlangsung sementara. Karena itu, sebagain besar dampaknya tidak perlu dicemaskan. Namun bila keadaan Anda tidak kunjung membaik dan dirasa sangat mengganggu, ada baiknya Anda memeriksakan diri ke dokter. Dengan pemeriksaan rinci, dokter dapat mendeteksi penyebab di balik kondisi Anda dan memberikan saran penanganan yang tepat. Abstrak. Secara umum, telah diketahui bahwa terjadinya El Nino dan La Nina memberikan dampak yang signifikan terhadap variabilitas musim di Indonesia, terutama pada variasi curah hujan. Sementara itu, penelitian yang mengkaji pengaruh El Nino dan La Nina terhadap parameter meteorologi selain hujan masih cukup sedikit. Untuk mengetahui adanya aktivitas El Nino maupun La Nina dapat digunakan beberapa indikator, salah satunya adalah Indeks Osilasi Selatan SOI. Tulisan ini mengkaji hubungan antara Indeks Osilasi Selatan terhadap parameter selain hujan, yaitu suhu, tekanan, dan kelembapan udara selama 30 tahun 1986-2015 di Stasiun Meteorologi Maritim Semarang menggunakan analisis korelasi. Hasil perhitungan menunjukan bahwa indeks osilasi selatan memberikan pengaruh yang sangat lemah hingga lemah terhadap suhu udara di semua periode dengan koefisien korelasi 0,004 hingga-0,284. Pengaruh indeks osilasi selatan terhadap tekanan udara memiliki hubungan cukup kuat hingga kuat dengan koefisien korelasi-0,554 hingga-0,697, sedangkan koefisien korelasi antara indeks osilasi selatan dengan kelembapan udara menunjukan hubungan sangat lemah hingga cukup kuat dengan koefisien korelasi sebesar-0,09 hingga 0,598. Kata kunci indeks osilasi selatan, suhu udara, tekanan, kelembapan, korelasi Abstract. In general, it is known that El Nino and La Nina give significant effect on season variability in Indonesia, especially in rainfall variation. Meanwhile, there is only few research reviewing about the impact of El Nino and La Nina on meteorological parameters except rainfall. Therefore, this study was conducted to determine the effect of Southern Oscillation Index SOI on air temperature, relative humidity, and air pressure in Maritime Meteorological Station of Semarang within span 30 years 1986-2015 using correlation analysis. The result showed that SOI give very weak to weak effect on air temperature in every period with correlation coefficient ranged between 0,004 up to-0,284, fairly strong to strong on air pressure with correlation coefficient ranged between-0,554 up to-0,697, and very weak to fairly strong on relative humidity with correlation coefficient ranged between-0,009 up to 0,598. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Seminar Nasional Fisika dan Aplikasinya Sabtu, 22 Juli 2017 Bale Sawala Kampus Universitas Padjadjaran, Jatinangor 363 PENGARUH FLUKTUASI NILAI INDEKS OSILASI SELATAN SOI TERHADAP PARAMETER SUHU, TEKANAN, DAN KELEMBAPAN UDARA DI SEMARANG USMAN EFENDI, ANISTIA MALINDA HIDAYAT, LISA AGUSTINA Prodi Meteorologi, Prodi Klimatologi Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Jl. Perhubungan I No. 5 Pondok Betung, Pondok Aren, Tangerang Selatan Abstrak. Secara umum, telah diketahui bahwa terjadinya El Nino dan La Nina memberikan dampak yang signifikan terhadap variabilitas musim di Indonesia, terutama pada variasi curah hujan. Sementara itu, penelitian yang mengkaji pengaruh El Nino dan La Nina terhadap parameter meteorologi selain hujan masih cukup sedikit. Untuk mengetahui adanya aktivitas El Nino maupun La Nina dapat digunakan beberapa indikator, salah satunya adalah Indeks Osilasi Selatan SOI. Tulisan ini mengkaji hubungan antara Indeks Osilasi Selatan terhadap parameter selain hujan, yaitu suhu, tekanan, dan kelembapan udara selama 30 tahun 1986-2015 di Stasiun Meteorologi Maritim Semarang menggunakan analisis korelasi. Hasil perhitungan menunjukan bahwa indeks osilasi selatan memberikan pengaruh yang sangat lemah hingga lemah terhadap suhu udara di semua periode dengan koefisien korelasi 0,004 hingga -0,284. Pengaruh indeks osilasi selatan terhadap tekanan udara memiliki hubungan cukup kuat hingga kuat dengan koefisien korelasi -0,554 hingga -0,697, sedangkan koefisien korelasi antara indeks osilasi selatan dengan kelembapan udara menunjukan hubungan sangat lemah hingga cukup kuat dengan koefisien korelasi sebesar -0,09 hingga 0,598. Kata kunci indeks osilasi selatan, suhu udara, tekanan, kelembapan, korelasi Abstract. In general, it is known that El Nino and La Nina give significant effect on season variability in Indonesia, especially in rainfall variation. Meanwhile, there is only few research reviewing about the impact of El Nino and La Nina on meteorological parameters except rainfall. Therefore, this study was conducted to determine the effect of Southern Oscillation Index SOI on air temperature, relative humidity, and air pressure in Maritime Meteorological Station of Semarang within span 30 years 1986-2015 using correlation analysis. The result showed that SOI give very weak to weak effect on air temperature in every period with correlation coefficient ranged between 0,004 up to -0,284, fairly strong to strong on air pressure with correlation coefficient ranged between -0,554 up to -0,697, and very weak to fairly strong on relative humidity with correlation coefficient ranged between -0,009 up to 0,598. Keywords southern oscillation index, air temperature, pressure, relative humidity, correlation email 1. Pendahuluan Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak diantara Benua Asia dan Australia, serta diantara Samudera Pasifik dan Hindia. Dengan posisi yang strategis tersebut menyebabkan wilayah Indonesia dipengaruhi oleh sirkulasi monsun yang berbalik arah dua kali dalam setahun. Sirkulasi monsun tersebut disebabkan oleh adanya sel tekanan rendah di benua Asia dan Australia secara bergantian. Pada Bulan Desember, Januari, dan Februari, terdapat sel tekanan tinggi di benua Asia sedangkan pada benua Australia terbentuk sel tekanan rendah sehingga menyebabkan angin bertiup dari benua Asia ke Australia. Selama periode ini angin di sebagian besar wilayah Indonesia bertiup dari barat ke timur yang bersamaan dengan musim hujan. Sementara, pada Bulan Juni, Juli, Agustus terjadi hal yang sebaliknya sehingga angin dari benua Australia berhembus menuju benua Asia. Pada periode tersebut angin di wilayah Indonesia berhembus dari barat ke timur yang bersamaan dengan berlangsungnya musim kemarau [1]. Namun tidak selamanya sirkulasi monsun di Indonesia berjalan normal setiap tahunnya. Hal ini disebabkan musim di Indonesia dipengaruhi oleh faktor global, salah satunya adalah El Nino Southern Oscillation ENSO. ENSO merupakan kombinasi dua fenomena yang berbeda, yaitu El Nino dan Osilasi Selatan. El Nino berkaitan dengan peningkatan suhu muka laut Samudera Pasifik ekuator bagian tengah dan timur, yang terdiri dari fase panas El Nino dan fase dingin La Nina. Sementara Osilasi Selatan merupakan jungkat-jungkit perbedaan tekanan atmosfer antara Australia-Indonesia dengan Samudera Pasifik bagian Timur. Fenomena El Nino dan Osilasi Selatan seringkali saling berkaitan, sehingga muncul istilah ENSO yang merupakan gabungan dari kedua fenomena tersebut[2,3]. Indikator untuk menentukan terjadinya ENSO adalah Sea Surface Temperature SST atau suhu permukaan laut serta Southern Oscillation Index SOI atau Indeks Osilasi Selatan. Apabila suhu muka laut Samudera Pasifik bagian ekuator lebih tinggi dari normal maka terjadi El Nino dan apabila suhu muka laut Samudera Pasifik bagian ekuator lebih rendah dari normal maka terjadi La Nina[3]. Adapun SOI merupakan nilai perbedaan antara tekanan udara di atas permukaan laut Tahiti Pasifik Timur dengan tekanan udara di Darwin Pasifik Barat akibat dari perbedaan suhu muka laut di kedua wilayah tersebut. Suatu keadaan dapat dikatakan sebagai El Nino apabila nilai SOI berada pada posisi minus dalam jangka waktu lebih dari 6 bulan dan begitu sebaliknya untuk menyatakan telah terjadi kejadian La Nina[4]. Meskipun kejadian El Nino prosesnya di Pasifik, dampaknya bisa meluas ke berbagai belahan dunia[5]. Aktivitas ENSO menyebabkan penurunan jumlah curah hujan kekeringan dan peningkatan curah hujan banjir di beberapa wilayah Indonesia[6]. Penelitian lain menunjukan bahwa selama ENSO berlangsung, curah hujan di wilayah Indonesia-New Guenia berkurang pada Bulan Juni-November[7]. Curah hujan merupakan salah satu parameter cuaca yang mengalami perubahan di setiap musimnya. Sementara itu, parameter cuaca yang lain seperti suhu udara,tekanan udara, dan kelembapan udara juga mengalami perubahan di setiap musim. Sudah banyak penelitian yang membahas dampak aktivitas ENSO terhadap curah hujan, namun sangat sedikit yang membahas dampak ENSO terhadap parameter suhu, tekanan, dan kelembapan udara. Oleh karena itu pada penelitian ini dilakukan analisis pengaruh aktivitas ENSO terhadap suhu, tekanan, dan kelembapan udara di Stasiun Meteorologi Maritim Semarang selama periode 30 tahun 1986-2015 dengan melihat tingkat korelasi antara Indeks Osilasi Selatan SOI sebagai salah satu indikator aktivitas ENSO terhadap data suhu, tekanan, dan kelembapan udara. 2. Metode Penelitian Pada penelitian ini, digunakan data suhu, kelembapan, dan tekanan udara selama rentang 1986-2015 yang diambil dari hasil pengamatan di Stasiun Meteorologi Maritim Semarang. Sementara itu, data pembanding yang digunakan adalah data Indeks Osilasi Selatan SOI yang diambil dari situs BOM dengan periode 1986-2015[8]. Data suhu, tekanan, dan kelembapan tersebut diolah ke dalam betuk data anomali dengan metode statistik. Perhitungan nilai anomali tiap parameter ini berguna untuk mengetahui sifat dari parameter cuaca tersebut pada suatu wilayah dalam rentang waktu tertentu. Nilai anomali suhu, tekanan, dan kelembapan udara diformulasikan sebagai      ......1 Dimana, Xi adalah nilai suhu, tekanan, atau kelembapan rata-rata selama bulan tertentu, N adalah banyaknya data suhu, tekanan, atau kelembapan rata-rata bulanan. Data anomali suhu, tekanan, kelembapan udara, serta indeks osilasi selatan dicari nilai rata-ratanya setiap tiga bulan berdasarkan sesi monsun, yaitu Desember-Januari-Februari DJF, Maret-April-Mei MAM, Juni-Juli-Agustus JJA, dan September-Oktober-November SON. Analisis korelasi dihitung antara SOI dengan anomali suhu udara, SOI terhadap anomali kelembapan udara, serta SOI terhadap anomali tekanan udara . Sementara itu, nilai korelasi dihitung dengan rumus sebagai berikut   ...... 2 Dimana, r adalah koefisien korelasi antara X dan Y, X adalah rata-rata bulanan dari SOI, Y adalah nilai suhu, tekanan, dan kelembapan diamati bulanan dari Stasiun Meteorologi Maritim Semarang. Untuk mengetahui tingkat kuat-lemahnya korelasi antara dua parameter, maka disusun tabel yang mencakup rentang nilai korelasi berikut interpretasinya sebagai berikut Tabel 1. Interpretasi Nilai r koefisien korelasi 0,00 – 0,199 0,20 – 0,399 0,40 – 0,599 0,60 – 0,799 0,80 – 1,000 Sangat lemah Lemah Cukup kuat Kuat Sangat kuat Sumber Sugiyono, 2010 [9] 3. Hasil dan Pembahasan Berikut ini adalah hasil kajian hubungan antara Indeks Osilasi Selatan dengan suhu udara, tekanan udara, serta kelembapan udara hasil pengamatan sinoptik selama 30 tahun 1986-2015 di Stasiun Meteorologi Maritim Semarang. Suhu Udara Nilai rata-rata bulanan suhu udara hasil pengamatan di Stasiun Meteorologi Maritim Semarang dapat dilihat pada gambar 1. Terlihat bahwa selama rentang 30 tahun suhu udara rata-rata tertinggi terjadi pada Bulan Oktober sebesar 28,5℃ dan suhu rata-rata terendah terjadi pada Bulan Januari dan Februari sebesar 27,0 ℃. Peningkatan suhu udara rata-rata terpantau pada Bulan Maret hingga Mei, September, dan Oktober, sementara penurunan suhu udara rata-rata terjadi pada Bulan Juni, Juli, dan November hingga Januari. Gambar 2 menunjukan grafik suhu udara rata-rata untuk setiap periode. Jika dilihat dari suhu udara rata-rata pada setiap periode, terlihat bahwa suhu rata-rata tertinggi terjadi pada periode SON sebesar 28,2℃ dan suhu rata-rata terendah terjadi pada periode DJF pucak musim hujan sebesar 27,1℃. Sementara itu, Udara ◦CBulanGambar 1. Grafik Suhu Udara Rata-rata Bulanan tahun 1986-2015 suhu udara rata-rata untuk periode MAM sebesar 27,9℃ dan suhu rata-rata periode JJA sebesar 27,5 ℃. Grafik tersebut menunjukkan jika suhu udara rata-rata pada periode transisi MAM & SON lebih tinggi dibandingkan dengan periode puncak musim DJF & JJA. Suhu udara rata-rata pada puncak musim hujan DJF menunjukkan suhu rata-rata terendah jika dibandingkan periode lainnya. Gambar 2. Grafik Suhu Udara Rata-rata per Periode Tahun 1986-2015 Hasil analisis korelasi antara indeks osilasi selatan dengan anomali suhu udara dapat dilihat pada gambar 3. Pada gambar tersebut, dapat diketahui bahwa korelasi antara SOI dan anomali suhu udara menunjukan hubungan yang sangat lemah hingga lemah 0,00 < r < 0,399. Meskipun demikian, koefisien korelasi antara SOI dan suhu udara berfluktuasi untuk setiap periodenya. Pada periode DJF koefisien korelasi menunjukan nilai 0,004, kemudian menunjukan nilai negatif sebesar –0,255 pada periode MAM. Sementara pada periode JJA koefisien korelasi menunjukan nilai positif sebesar 0,264 dan kembali menunjukan nilai negatif pada periode SON sebesar –0,284. Korelasi positif ditunjukkan oleh periode puncak musim dan korelasi negatif ditunjukkan pada periode transisi. Pada puncak musim hujan DJF indeks osilasi selatan hampir tidak memiliki pengaruh terhadap suhu udara r = 0,004. Jika terjadi ENSO pada puncak musim penghujan DJF, angin baratan akan melemah namun karena angin baratan tersebut berasal dari Laut Cina Selatan yang bersifat lembap ENSO tidak terlalu memiliki pengaruh yang signifikan terhadap suhu udara[10]. Gambar 3. Grafik Korelasi antara Suhu Udara dengan SOI MAM JJA SONSuhu Udara ◦C MAM JJA SONKoefisien KorelasiPeriode Tekanan Udara Dalam rentang tahun 1986-2015, tekanan udara rata-rata di Stasiun Meteorologi Maritim Semarang menunjukan nilai tertinggi pada Bulan Agustus sebesar 1012,3 mb Gambar 4. Sementara itu, rata-rata tekanan udara terendah terjadi pada Bulan Januari dengan nilai tekanan udara sebesar 1010,1 mb. Selama Bulan Januari hingga Agustus nilai rata-rata tekanan udara terpantau mengalami peningkatan dan kembali mengalami penurunan pada Bulan September hingga Desember. Gambar 4. Grafik Rata-rata Tekanan Udara Tahun 1986-2015 Gambar 5 menunjukan grafik nilai rata-rata tekanan udara selama 30 tahun untuk tiap periodenya. Pada grafik tersebut terlihat bahwa rata-rata tekanan udara tertinggi terjadi pada periode JJA dengan rata-rata tekanan udara sebesar 1011,7 mb dan rata-rata tekanan udara terendah terjadi pada periode DJF dengan nilai rata-rata tekanan udara sebesar 1010,2 mb. Sementara itu, rata-rata tekanan udara untuk periode MAM sebesar 1010,4 mb dan rata-rata tekanan udara untuk periode SON sebesar 1011,4 mb. Gambar 5. Grafik Tekanan Udara Rata-rata per Periode Tahun 1986-2015 MAM JJA SONTekanan udara mb udara mbBulan Hasil analisis korelasi antara indeks osilasi selatan dengan anomali tekanan udara dapat dilihat pada gambar 6. Pada gambar tersebut dapat diketahui bahwa korelasi antara SOI dengan anomali tekanan udara menunjukan hubungan yang cukup kuat hingga kuat 0,40 < r < 0,799. Nilai koefisien korelasi pada periode DJF, MAM, JJA, serta SON secara berturut-turut adalah -0,697, -0,65, -0,554, serta -0,601. Koefisien korelasi dengan nilai negatif mengindikasikan adanya hubungan berbalik arah antara SOI dengan anomali tekanan udara. Apabila SOI meningkat maka tekanan udara menurun, sedangkan apabila SOI menurun maka tekanan udara akan meningkat. Berbeda dengan pengaruh indeks osilasi selatan terhadap suhu udara yang menunjukkan hampir tidak adanya pengaruh pada periode DJF, indeks osilasi selatan memiliki pengaruh kuat terhadap tekanan udara pada periode DJF. Gambar 6. Grafik Korelasi antara Tekanan Udara dengan SOI Kelembapan Udara Nilai rata-rata bulanan kelembapan udara hasil pengamatan di Stasiun Meteorologi Maritim Semarang dapat dilihat pada gambar 7. Terlihat bahwa selama rentang 30 tahun kelembapan udara rata-rata tertinggi terjadi pada Bulan Februari sebesar 84% dan kelembapan udara rata-rata terendah terjadi pada Bulan Agustus dan September sebesar 69%. Peningkatan kelembapan udara rata-rata terpantau pada Bulan Oktober hingga Februari, sementara penurunan kelembapan udara rata-rata terjadi pada Bulan Maret hingga Agustus. Gambar 7. Grafik Kelembapan Udara Rata-rata Tahun 1986-2015 MAM JJA SONKoefisien KorelasiPeriode0102030405060708090Kelembapan Udara %Bulan Pada gambar 8 menunjukan grafik kelembapan udara rata-rata untuk setiap periode. Terlihat bahwa kelembapan udara rata-rata tertinggi terjadi pada periode DJF sebesar 83% dan kelembapan udara rata-rata terendah terjadi pada periode JJA sebesar 72%. Sementara itu, kelembapan udara rata-rata untuk periode MAM sebesar 80% dan kelembapan udara rata-rata periode SON sebesar 73%. Pada puncak musim hujan DJF terdapat sel tekanan rendah di wilayah Australia dan sel tekanan tinggi di wilayah Asia sehingga angin berhembus dari Asia menuju ke Australia monsun barat, sedangkan pada puncak musim kemarau JJA terdapat sel tekanan rendah di wilayah Asia dan sel tekanan tinggi di Australia sehingga angin berhembus dari Australia menuju ke Asia monsun timur. Monsun barat biasanya lebih lembap daripada monsun timur [11]. Hal ini menyebabkan pada periode puncak musim hujan DJF memiliki kelembapan udara yang tinggi, sedangkan pada periode musim kemarau JJA memiliki kelembapan udara yang rendah. Gambar 8. Grafik Kelembapan Udara Rata-rata per Periode Tahun 1986-2015 Hasil analisis korelasi antara indeks osilasi selatan dengan anomali kelembapan udara dapat dilihat pada gambar 9. Pada gambar tersebut, dapat diketahui bahwa korelasi antara SOI dan anomali kelembapan udara pada periode DJF menunjukan hubungan yang sangat lemah dengan koefisien korelasi sebesar sedangkan pada periode MAM menunjukan hubungan lemah dengan koefisien korelasi 0,202. Sementara itu, pada periode JJA dan SON menunjukan adanya hubungan cukup kuat antara SOI dengan anomali kelembapan udara dengan koefisian korelasi untuk JJA sebesar 0,405 dan koefisien korelasi untuk SON sebesar 0,598. Koefisien korelasi dengan nilai positif mengindikasikan hubungan searah antara SOI dengan kelembapan udara pada periode JJA dan SON, sehingga apabila SOI meningkat maka kelembapan udara periode JJA dan SON meningkat, dan apabila SOI menurun maka kelembapan udara periode JJA dan SON juga menurun. Sama halnya dengan kelembapan udara dimana pada periode DJF menunujukkan nilai korelasi yang terendah dan pada periode SON menunjukkan nilai korelasi yang tertinggi. 66687072747678808284DJF MAM JJA SONKelembapan Udara %Periode Gambar 9. Grafik Korelasi antara Kelembapan Udara dengan SOI 4. Kesimpulan Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa pengaruh Indeks Osilasi Selatan SOI memberikan respon yang berbeda terhadap parameter suhu, tekanan, dan kelembapan udara di setiap musim. Analisis korelasi antara SOI dengan suhu udara menunjukan nilai yang bervariasi antara positif pada periode DJF dan JJA dan negatif pada MAM dan SON. Secara keseluruhan, dapat diketahui bahwa SOI memberikan pengaruh yang sangat lemah hingga lemah terhadap suhu udara di setiap musim. Analisis korelasi antara SOI dan tekanan udara menunjukan hubungan cukup kuat pada periode JJA dan kuat pada periode DJF, MAM, dan SON dengan koefisien korelasi yang konsisten pada nilai negatif di semua periode. Koefisien korelasi yang bernilai negatif menunjukan adanya hubungan berbalik arah antara SOI dengan tekanan udara. Sementara itu Analisis korelasi antara SOI dengan kelembapan udara menunjukan hubungan sangat lemah dan lemah pada periode DJF dan MAM serta cukup kuat pada periode JJA dan SON. Koefisien korelasi yang bernilai positif pada periode MAM, JJA, dan SON menunjukan adanya hubungan searah antara SOI dengan kelembapan udara. Ucapan terima kasih Penulis mengucapkam terimakasih kepada Stasiun Meteorologi Maritim Semarang yang telah membantu penulis dalam mengumpulkan data suhu, tekanan, dan kelembapan udara serta pihak-pihak yang telah membantu dalam penyusunan tulisan ini. MAM JJA SONKoefisien KorelasiPeriode Daftar Pustaka 1. Mulyana, Erwin. 2002. Hubungan Antara ENSO dengan Variasi Curah Hujan di Indonesia. Jurnal Sains dan Teknologi Modifikasi Cuaca, Vol. 3, No. 1, 20011-4 2. Chiew, 1998. El Nino/Southern Oscillation dan Australian Rainfall, Streamflow, dan Drought Links dan Potential for Forecasting. Journal of Hydrology 204 138 – 149. 3. Pratama, Sunu Maulana. 2003. Pengaruh Fenomena ENSO Tahun 1997 dan 1999 terhadap Curah Hujan di Biak. Tangerang Akademi Meteorologi dan Geofisika. 4. Effendy, Sobri. 2001. Urgensi Prediksi Cuaca Dan Iklim Di Bursa Komoditas Unggulan Pertanian. Makalah Falsafah Sains Program Pasca Sarjana/S3. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 5. Muhammad, dkk. 2012. Pengaruh ENSO El Niño and Southern Oscillation terhadap transpor massa air laut di Selat Malaka. Jurnal Depik, 11 61-67 6. Suwandi, dkk. 2014. Pengaruh Aktivitas ENSO dan Dipole Mode terhadap Pola Hujan di Wilayah Maluku dan Papua Selama Periode Seratus Tahun 1901-2000. Jurnal Meteorologi dan Geofisika, Vol. 15, No. 1, 2014 71-76 7. Ropelewski, dan 1987. Global dan Regional Scale Precipitation Patterns Associated with the El Nino/Southern Oscillation. Monthly Weather Review 115 1606-1626. 8. Bureau of Meteorology. Southern Oscillation Index SOI 1986-2015. current/ diakses pada 10 Desember 2016 9. Sugiyono. 2010. Statistika Untuk Penelitian. Bandung Penerbit Alfabeta. 10. Mulyana, Erwin. 2002. Analisis Angin Zonal Di Indonesia Selama Periode ENSO. Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca, Vol. 3, No. 2, 2002, 115-120 11. Adikusumo, M Latief. 2008. Karakteristik Curah Hujan Dki Jakarta Dengan Metode Empirical Orthogonal Function EOF [skripsi]. Bogor Departemen Geofisika Dan Meteorologi Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor ResearchGate has not been able to resolve any citations for this Southern Oscillation Index SOI has been used as a predictor of variables associated with climatic data, such as rainfall and temperature, and is related to the El Nino and La Nina phenomena, also called the El Nino Southern Oscillation ENSO. The present study aims to describe the characteristics of the SOI between 1876 and 2014 using statistical methods. The graph of the cumulative monthly SOI in the period 1876 - 2014 shows that the data can be divided into 4 periods. The first period, from 1876 to 1919, shows no trend. An increasing trend is apparent in the second period from 1920 until 1975, while a decreasing trend is apparent in the third period, 1976 to 1995. In the last period, between 1996 and 2014, the SOI appears fairly stable. In order to investigate those trends, the linear regression and autoregressive AR model have been fitted. For the linear regression model, the outcome, SOI, is regressed against boxcar function, where the functions model the trends of the SOI. An autoregressive process is used to account for serial correlation in the residuals. The conclusion is that the SOI is quite similar to a random noise MSyamsul RizalJunaidi M. AffanThis research examines the influence of ENSO El Niño and Southern Oscillation in the Malacca Strait with the southern oscillation index using the Pacific Ocean in determining the condition of Normal, El Niño and La Nina as the analysis of mass transpor of sea water, sea surface elevation and the density of the sea. The research methods using the Navier-Stokes equations with force generating tides, winds from the National Centers for Environmental Prediction NCEP Year 1980- 007, salinityLevitus and Boyer, 1994a and temperature Levitus and Boyer, 1994b. Equations of motion of the sea water were modeled with the model of Hamburg Shelf Ocean Model HAMSOM. The results show that the transport in northwestern part of the Malacca Strait is lower, but in the southeastern part is stronger compared to that of in Normal and La Nina events. While in Sea Level Elevation at El Niño event is lower compared to that of in Normal and La Nina events. For sea surface density, the density values are s/d kg/m3 while for the later 30-50 m, the values are 19-21 kg/m3. Sea surface density and density for layer 30-50 m in th southeastern part of Malacca Strait for El Niño events are higher than that of in normal and La Nina event. Key words Sea level elevation, sea density and Hamsom modelChester F. RopelewskiMichael S. HalpertWe investigate the “typical” global and large-scale regional precipitation patterns that are associated with the El Nino/Southern Oscillation ENSO. Monthly precipitation time series from over 1700 stations are analyzed using an empirical method designed to identify regions of the globe that have precipitation variations associated with ENSO. Monthly mean ranked precipitation composites are computed over idealized 2-year ENSO episodes for all stations that include data for at least five ENSOs. The amplitude and phase of the Arm harmonic fitted to the 24-month composite values are plotted in the form of a vector for each station. When plotted on a global map, these vectors reveal both the regions of spatially coherent ENSO-related precipitation and the phase of this signal in relation to the evolution of the composite episode. Time cries of precipitation for the coherent regions identified in the harmonic vector map are examined to determine the magnitudes of the ENSO-related precipitation and th...El Nino/Southern Oscillation ENSO has been linked to climate anomalies throughout the world. This paper presents an overview of the relationship between ENSO and rainfall, drought and streamflow in Australia. The teleconnection between ENSO and the hydroclimate of Australia is investigated using the empirical method of Ropelewski and Halpert and the potential for forecasting the hydroclimate variables are investigated by assessing the lag correlations between rainfall and streamflow and the indicators of ENSO several months earlier. The analyses show that dry conditions in Australia tend to be associated with El Nino. The link between rainfall and streamflow and ENSO is statistically significant in most parts of Australia, but it is not sufficiently strong to consistently predict rainfall and streamflow accurately. The teleconnection is stronger in the latter part of the year, and the analyses suggest that the indicators of ENSO can be used with some success to forecast spring rainfall in eastern Australia and summer rainfall in north-east Australia several months in advance. The ENSO indicators can also be used to help forecast spring runoff in south-east Australia and summer runoff in the north-east and east coasts of Australia. Unlike rainfall, the serial correlation in the streamflow data is generally similar or higher than the lag streamflow-ENSO correlation, and it must be used together with the ENSO indicators in developing streamflow forecast models. The seasonal forecasts of rainfall and streamflow are invaluable to the management of land and water resources, particularly in Australia, where the streamflow variability is higher than in most parts of the Antara ENSO dengan Variasi Curah Hujan di IndonesiaErwin MulyanaMulyana, Erwin. 2002. Hubungan Antara ENSO dengan Variasi Curah Hujan di Indonesia. Jurnal Sains dan Teknologi Modifikasi Cuaca, Vol. 3, No. 1, 20011-4Pengaruh Fenomena ENSO Tahun 1997 dan 1999 terhadap Curah Hujan di BiakSunu PratamaMaulanaPratama, Sunu Maulana. 2003. Pengaruh Fenomena ENSO Tahun 1997 dan 1999 terhadap Curah Hujan di Biak. Tangerang Akademi Meteorologi dan Prediksi Cuaca Dan Iklim Di Bursa Komoditas Unggulan Pertanian. Makalah Falsafah Sains Program Pasca Sarjana/S3. Institut Pertanian BogorSobri EffendyEffendy, Sobri. 2001. Urgensi Prediksi Cuaca Dan Iklim Di Bursa Komoditas Unggulan Pertanian. Makalah Falsafah Sains Program Pasca Sarjana/S3. Institut Pertanian Bogor. SuwandiSuwandi, dkk. 2014. Pengaruh Aktivitas ENSO dan Dipole Mode terhadap Pola Hujan di Wilayah Maluku dan Papua Selama Periode Seratus Tahun 1901-2000. Jurnal Meteorologi dan Geofisika, Vol. 15, No. 1, 2014 71-76Statistika Untuk Penelitian. Bandung Penerbit AlfabetaSugiyonoSugiyono. 2010. Statistika Untuk Penelitian. Bandung Penerbit Angin Zonal Di Indonesia Selama Periode ENSOErwin MulyanaMulyana, Erwin. 2002. Analisis Angin Zonal Di Indonesia Selama Periode ENSO. Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca, Vol. 3, No. 2, 2002, 115-120

perbedaan tekanan udara positif dan negatif